KESENJANGAN SOSIAL

Anak dan Sepak Bola

  • DESKRIPSI OBJEK

 Terlihat 3 orang anak berusia sekolah dasar sedang asik bermain bola di jalan. Hanya kesenangan yang tampak di wajah mereka. Tidak ada kesedihan apalagi kekhawatiran akan bahaya yang mengintai Dito. Entah nama sebenarnya atau bukan, karena saat ditanya mereka hanya saling menertawakan satu sama lain. Motivasinya untuk bermain di jalan hanya untuk menyalurkan hobi. Tidak mengindahkan apapun. Walau gelap sudah menyelimuti hari, mereka tetap bermain. Saat ditanya apakah mereka tidak takut dengan banyaknya kendaraan yang melintas, mereka hanya tertawa. Tidak ada setitik pun beban yang tersirat dalam wajahnya.

Latar belakang pendidikan mereka pun berbeda-beda. Dito bersekolah di SDN Negeri, sedangkan 2 lainnya terpaksa putus sekolah dengan alasan ketidakmampuan ekonomi. Pekerjaan kedua orang tua mereka pun tidak berpenghasilan tetap. Buruh dan pedagang asongan, itulah yang mereka jelaskan secara singkat. Saya tidak yakin mereka mengerti apa itu buruh. Yang mereka tau hanya bermain, dan menghabiskan waktu bersama teman-teman. Singkat sekali obrolan kami, karena mereka hanya menjawab seperlunya tanpa mengindahkan apakah saya mendengarnya atau tidak. Ditambah lagi setiap jawaban yang mereka utarakan selalu diselingi dengan gelak tawa.

  • ULASAN DAN PENDAPAT

Dito. Seorang anak yang pada malam itu cukup mengusik hati dan nurani saya. Menjadi “korban” kesenjangan sosial sama sekali tidak mengusik hari-harinya. Disaat anak-anak lain dapat bersekolah dengan mudah dan dengan fasilitas yang lengkap (baca: mewah). Dito dan kawan-kawan hanya dapat menyalurkan hobi bermain bolanya tersebut di jalan. Asap, debu, resiko tertabrak kendaraan, dan hal-hal lainnya yang menyita fikiran saya, tidak sama sekali terbersit dalam fikirannya. Selain berhak mendapatkan pendidikan/ bersekolah, bahagia juga merupakan hak asasi manusia. Dan bagi anak-anak, bahagia itu adalah bermain. Mereka juga berhak untuk mendapatkan fasilitas atau lahan untuk bermain dan melakukan aktivitas lainnya tanpa harus dihinggapi resiko-resiko yang dapat mengancam kesehatan atau bahkan jiwanya. Menurut saya, selain fasilitas sekolah, fasilitas bermain juga harus difikirkan solusinya oleh pemerintah dan masyarakat. Jangan jadikan pembangunan sebagai alasan untuk merenggut lahan bermain mereka. Saat ini, hampir di setiap rukun warga (RW) atau bahkan rukun tetangga (RT) tidak lagi memiliki lahan atau tanah lapang yang biasa kami gunakan dahulu untuk bermain. Karena tanah lapang tersebut sudah berubah menjadi town house, mall, rumah toko (Ruko), dan lain sebagainya. Bagi anak-anak dengan taraf kehidupan ekonomi yang baik, masih bisa menyalurkan hobinya dengan bergabung dalam club olah raga, perkumpulan seni, atau kegiatan bermain lainnya, yang iuran bulannya tidak sanggup bagi anak-anak di kalangan ekonomi bawah untuk membayarnya.

Saya berharap, pemerintah dan masyarakat dapat bekerja sama untuk mendapatkan solusi dalam hal ini. Pembangunan dapat terus berjalan dengan tidak mengorbankan kebahagiaan anak-anak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s